Kembali

Melampaui 400 Juta Penumpang, KAI Commuter Fokus Garap Integrasi First-Last Mile dan Kawasan TOD demi Kenyamanan Commuterline

PT Kereta Commuter Indonesia (KAI Commuter) mencatat tren pertumbuhan jumlah pengguna Commuterline yang sangat signifikan dalam tiga tahun terakhir. Pada tahun 2023, volume penumpang tercatat sebesar 331.894.721 pengguna, lalu melonjak menjadi 374.484.307 pengguna pada tahun 2024, dan berhasil menembus angka 400.997.610 pengguna pada tahun 2025.

 

Pertumbuhan yang masif ini menegaskan bahwa Commuter line tetap menjadi moda transportasi andalan masyarakat perkotaan berkat efisiensi waktu, biaya, serta kapasitas angkutnya yang besar.

 

KAI Commuter mengakui bahwa keluhan terkait kepadatan penumpang pada jam sibuk (peak hour) masih menjadi tantangan yang memengaruhi kenyamanan. Namun, di sisi lain, hal ini menunjukkan tingginya kepercayaan masyarakat.

 

Untuk mengatasi hal tersebut dan terus mengikis stigma negatif bahwa transportasi umum tidak aman atau nyaman yang kini perlahan mulai hilang di kalangan generasi muda KAI Commuter telah menyiapkan berbagai langkah strategis.

 

" KAI Commuter terus melakukan berbagai langkah nyata, antara lain penambahan rangkaian kereta seperti CLI 125 dan CLI 225, optimalisasi jadwal perjalanan, pengaturan headway (jarak antar-kereta) terutama di jam sibuk, serta peningkatan fasilitas stasiun," jelas Karina Amanda, selaku VP Corporate Secretary KAI Commuter.

 

Selain itu, KAI Commuter juga memperkuat layanan informasi perjalanan secara real-time melalui media sosial resmi dan saluran informasi digital lainnya, dengan tetap menjadikan aspek kebersihan, keamanan, dan keselamatan sebagai fokus utama.

 

“KAI Commuter mengidentifikasi bahwa faktor first mile (akses dari rumah ke stasiun) dan last mile (akses dari stasiun ke tujuan akhir) merupakan penentu utama minat masyarakat. Saat ini, kendala integrasi seperti kurangnya fasilitas penunjang dan jarak perpindahan moda yang cukup jauh masih ditemukan, sehingga terkadang membuat pengguna beralih ke transportasi alternatif,” tambah nya.

 

Untuk mengatasinya, KAI Commuter terus memperkuat ekosistem transportasi melalui berbagai langkah seperti penataan kawasan stasiun agar lebih ramah pejalan kaki dan pesepeda,  serta pengembangan tiket terintegrasi guna memudahkan pembayaran multidimensi. Selain itu KAI Commuter juga melakukan sinkronisasi jadwal dan akses antar moda dengan bus, ojek daring, dan moda lanjutan lainnya agar perjalanan semakin praktis.

 

Di samping itu, KAI Commuter menekankan pentingnya peran kawasan Transit Oriented Development (TOD) di sekitar stasiun. Dengan menghadirkan hunian, perkantoran, dan fasilitas publik yang menyatu dengan stasiun, masyarakat dapat beraktivitas tanpa ketergantungan pada kendaraan pribadi. TOD dinilai sebagai kunci utama dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan di wilayah perkotaan.

 

Guna mendorong percepatan migrasi masyarakat ke transportasi publik, KAI Commuter menilai perlu adanya langkah mendesak dari sisi regulasi dan infrastruktur pemerintah.

 

KAI Commuter mendorong pemerintah untuk memperkuat ekosistem transportasi umum yang terintegrasi, membangun infrastruktur pejalan kaki dan pesepeda yang layak, serta menerapkan kebijakan pembatasan penggunaan kendaraan pribadi di kawasan tertentu. “Kombinasi langkah-langkah ini, didukung dengan subsidi biaya transportasi yang tepat sasaran, diyakini akan secara signifikan mendorong masyarakat beralih ke transportasi umum demi mewujudkan mobilitas perkotaan yang lebih sehat dan bebas macet,” tandas nya.